Selasa, 09 Desember 2014

PUTUSSIBAU, Suatu Catatan Perjalanan

Putussibau,  Kapuas Hulu


Pagi ini Rabu 3 Desember 2014, selama beberapa hari ini kota Pontianak yang diguyur hujan membuat hawa pagi terasa cukup dingin, setelah sholat shubuh di Masjid Al-Jama’ah yang terletak diantara jalan Surya dan jalan Sumatera Pontianak, penulis segera kembali ke “Asrama Surya Ungu” untuk berbenah diri bersiap memulai suatu perjalanan yang telah lama diharapkan, maklum setelah “bermukim” selama hampir 4 tahun di Pontianak Kalimantan Barat, baru kali ini berkesempatan untuk mengunjungi kota Putussibau yang merupakan ibukota Kabupaten Kapuas Hulu Propinsi Kalimantan Barat, AlhamdulIllah...

Perjalanan yang akan dilakukan penulis Widya Sananda bersama dengan R. Haryadi adalah dalam rangka perjalanan dinas untuk melakukan penggalian potensi lelang sesuai bidang tugas yang penulis “lakoni” selama hampir 4 tahun di Kantor Wilayah DJKN Kalimantan Barat, perjalanan ke kota Putussibau akan kami jalani dengan menggunakan pesawat udara yang tersedia trip pada pagi hari.

Perjalanan menuju kota Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu dapat dilalui dengan jalan darat, sungai dan udara. Namun bila menempuh menggunakan kendaran mobil atau bus akan ditempuh sekitar 16 jam dengan catatan kondisi jalan yang cukup baik, namun bila kondisi hujan atau jalan rusak perjalanan bisa menjadi lebih lama lagi, karena jarak tempuh adalah 814 km dari Kota Pontianak. Apabila menggunakan transportasi sungai jarak tempuhnya lebih jauh lagi sekitar 846 km dan akan melalui sungai Kapuas yang terkenal akan hutan yang eksotis dan yang pasti waktu tempuhnyapun akan lebih lama lagi karena kelokan sungai Kapuas yang cukup menegangkan bila dilalui dengan perahu atau speedboat walaupun diakui memang indah bila dilihat dari udara.

Pukul 06.00 kami sudah berada di Bandara Supadio Pontianak, menunggu boarding pesawat Kalstar yang akan menerbangkan kami sekitar 60 menit menuju Bandara Pangsuma Putussibau, kami bersyukur karena saat ini penerbangan menuju Putussibau dapat menggunakan pesawat jenis ATR 42-600 sama seperti yang digunakan maskapai Garuda dengan rute penerbangan yang sama (saat ini hanya ada 2 penerbangan dari Pontianak ke Putussibau dan keduanya hanya di pagi hari begitupun sebaliknya).

Sebagai informasi mengenai pesawat yang digunakan adalah pesawat jenis ATR seri 600, berdasarkan catatan pesawat ini mempunyai teknologi yang baru dengan mesin PW-127 M yang bisa mendarat mulus pada landasan pendek dan buatan pabrik Tahun 2010, jadi kami masih bisa tidak terlalu khawatir akan perjalanan ini, maklum siapa yang tidak kenal hutan Kalimantan “Borneo Forest” hutan yang masih lebat, asri dan konon merupakan paru-paru dunia.
Saat lepas landas terasa nyaman, walaupun baling-baling pesawat berada didekat jendela tempat saya mendapatkan nomor kursi pesawat, keindahan alam Kalimantan mulai terasa wilayah Kabupaten Kubu Raya terasa indah dilihat dari udara, daerah lumbung beras untuk kota Pontianak terlihat hijau, terasa bagaikan dipulau Jawa, namun berbeda dengan adanya keindahan kelok sungai Kapuas.

Sepanjang perjalanan penulis mengagumi keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa yang diletakkan di pulau Kalimantan, udara yang cerah membuat penulis dapat melihat bukit dan Gunung yang masih asri yang dikelilingi oleh awan putih yang menambah ketakjupan terhadap ciptaan Illahi, memang menakjubkan alam Kalimantan.. itulah kenapa banyak orang mengatakan “Amazing Borneo”.

Tak terasa waktu 60 menit terasa sebentar untuk mengagumi keindahan alam Kalimantan Barat dari udara, tampak kota Putussibau yang cukup ramai terlihat keindahannya dari udara, dan benar pesawat ATR 600 dapat mulus mendarat di Bandara Pangsuma Putussibau, kondisi bangunan bandara cukup baik walau tidak seperti yang ada di pulau Jawa, namun hampir sama dengan bandara Ketapang yang pernah penulis singgahi.

Saat berkendara dari bandara Pangsuma menuju kota Putussibau yang jaraknya sekitar 4 km, terasa angin semilir yang masih asri memberikan kesejukan bagi pengalaman perjalanan ini, sepanjang perjalanan sudah mulai ramai dengan rumah penduduk yang kebanyakan merupakan rumah dengan pondasi panggung, ciri khas rumah di Kalimantan.

Kota Putussibau dengan semboyan “Bumi Uncak Kapuas” memang tidak terlalu besar dibandingkan kota Pontianak apalagi dengan kota di pulau Jawa, dengan luas sekitar 29.842 km2 dan jumlah penduduk sekitar 200 ribu jiwa, namun kota ini tampak bersih dan teratur dengan kondisi lalu lintas yang jelas jauh lebih tertib dibandingkan kota Pontianak.

Saat akan memasuki lobby Hotel Sanjaya di pusat kota Putussibau terasa udara segar dan sehat hembusan angin Bumi Uncak Kapuas. Untuk penginapan saat ini Hotel Sanjaya yang berada di jalan Kom. Yos Sudarso merupakan hotel atau penginapan yang terbaik yang ada di kota Putussibau dan juga kebetulan letaknya ditengah kota berdampingan dengan Agen Bus Damri, walaupun kami melihat ada beberapa hotel berada di sekitar pusat kota.
Kondisi kota yang tidak terlalu ramai, telah membuat penulis berkesempatan mengelilingi kota Putussibau dengan berjalan kaki disekitar hotel, terlihat beberapa bangunan yang cukup bagus yang dapat penulis ambil gambarnya adalah, kantor Bupati Kapuas Hulu yang gedungnya bersatu dengan gedung Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kapuas Hulu yang akan kami kunjungi, disekitarnya ada gedung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang cukup unik dan mempunyai bentuk khas Kalimantan, Gelanggang Olahraga Gelora Uncak Kapuas, Gedung DPRD dan Gedung Bank BRI yang disebelahnya Gedung Bank Kalbar Cabang Kapuas Hulu.

Setelah istirahat sejenak, kami melakukan tugas pokok perjalanan kali ini yaitu penggalian potensi lelang di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kapuas Hulu, semula kami bermaksud berkunjung ke DPPKAD saja, namun tak menyangka kami diterima oleh Kepala DPPKAD Bapak Drs. Mohd. Zaini, MM. disaat beliau mengadakan rapat dengan satuan kerja Kabupaten Kapuas Hulu, maka jadilah kami berdua melakukan sosialisasi dadakan terkait peran Tupoksi DJKN termasuk peranan penjualan lelang sebagai PNBP dan Pendapatan Daerah, dengan menjelaskan tentang tata cara pelaksanaan lelang terbuka maupun penjualan lelang melalui internet dan email.

Dalam pertemuan tersebut, kami mendapatkan kesan antusias peserta rapat yang semula merupakan rapat instansi Kabupaten Kapuas Hulu berubah menjadi sosialisasi mengenai Tupoksi DJKN khususnya terkait pelaksanaan lelang. Pada presentasi dadakan ini  yang membuat kami kagum adalah keramahan dari peserta rapat, sehingga pertemun berjalan dengan baik layaknya bukan seperti orang yang baru dikenal, inilah salah satu peristiwa yang membekas dalam perjalanan pertama kami di Kabupaten Kapuas Hulu.   

There is no word ‘useless’ in an effort. Be confident of your every effort is part of your experience





Wied-Sand

Des-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar